Jumat, 25 Desember 2015

Tsunami Di Ingatan Reporter TRans 7, Uni Z Lubis.

Banda Aceh- Matahari pagi bersinar terang seperti biasanya pada minggu 26 Desember 2004. Namun di balik itu semua, setiba detakan jarum jam pada pukul 07:58:00 menjadi hari yang mengharukan bagi seluruh dunia.

Gempa Bumi berkekuatan 9,3 Skala Richter yang juga iringi tsunami meluluh-lantahkan bangunan, pepohonan dan menerjang apa saja yang dilewatinya sepanjang 10 km dari pesisir pantai Banda Aceh dan Aceh Besar hingga wilayah Barat Aceh juga terkena terjangan dasyat tersebut.

Menurut catatan dari kementrian Sosial 105.652 ribu orang merengang nyawa hingga keprihatinan mengalir deras dalam bentuk bantuan moral maupun materi dari seluruh dunia yang secara cepat datang dari segala penjuru mata angin membantu Aceh bangkit dan menata kembali kota maupun semangat masyarakat yang dirasa redup kala itu.
.
Pada akhir 25 September 2014, terdengarlah sepenggal cerita dari Uni Z Lubis sebagai salah seorang reporter yang sampai pertama kali meliput tsunami dengan rombongan Presiden Jusuf Kalla. Sepengal kisah ini di ceritakan Uni pada Atjehlink saat  dirinya menjadi pengajar di Sekolah Jutnalist Indonesia( SJI) di Gedung Persatuan Watawan Indonesia (SJI)( 25/11/2014)

Mengawali ceritanya, wanita yang juga merupakan satu-satunya Dewan Pers termuda di Indonesia tersebut mengatakan sebelumnya tidak pernah membayangkan bagaimana kondisi tsunami terjadi di Aceh 
"Pada pagi hari saat tsunami menerjang Aceh sekitar pukul delapan, udah ada berita dirunning teks televisi, bahwa ada gempa 8,9 Skala Ricter di Aceh, dan semua saluran komunikasi terputus tidak ada informasi yang masuk ke Jakarta," ujarnya.

Pada saat kondisi begitu, hari pertama tsunami Wakil Presiden Jusuf Kalla langsung mengirim Sofyan Djalil yang menjabat Menteri Komunikasi dan Informasi bersama Marir Muhammad ketua Palang Merah Indonesia saa itu.
"Pak Sofyan kan orang Aceh yang sekarang jadi Menko Perekonomian. Nah..setelah siangnya dikirim juga tidak ada laporan yang masuk ke jakarta hingga malam hari, mungkin karena saluran telpon terputus," ujar Uni dengan aksen logat ibu kota yang kental di lidahnya.

Pada malam harinya, Uni kembali  menceritakan, bahwa dia bersama redaksi trans 7 saat itu ada acara makan malam bersama wakil presiden. Dia duduk berhadapan persis di depan wakil presidennya SBY tersebut, "Saya lihat  dia nerima telpon, trus ngomong besok pagi saya akan berangkat ke Aceh. Dan kemudian saya bilang saya ikut," ujarnya, dan di iyakan oleh Jusuf Kalla. Hingga besok paginya Uni diminta sudah berada di Bandara Halim Perdana Kusuma.

Pada tanggal 27 Desember 2014 Dari bandara tersebut dia berangkat dengan menggunakan pesawat pribadi milik Jusuf kalla yang bernama (Atirah) yang diambil dari nama ibunya sendiri.
Dengan menumpang pesawat berbadan lebar itu Uni berangkat ke Aceh pada pukul 08:00 yang didalamnya juga membawa Jusuf kalla, menteri Sri Mulyani, Nurul Fadilla, Najwa Shihap, dan beberapa orang yang lainnya yang tidak terlalu dikenalnya.

Mereka tiba pada pukul 11 di Aceh, dan  menjadi pesawat pertama yang mendarat di Bandara Iskandar Muda, "Pada waktu itu, kondisi Bandara rusak, jadi tidak ada  pesawat komersil yang mau mendarat disana, tapi pada kerena pesawatnya miliknya pak Jusuf kalla ya terserah dia lah," ujar wanita berkacamata tersebut dengan ikuti sedikit tawa dari parasnya yang putih.

Setelah mendarat, reporter wanita Trans 7 tersebut, melihat landasan bandara retak- retak dan banyak orang-orang yang mengungsi di depan bandara tersebut, "Saya melihat banyak sekali orang yang mengungsi," ujarnya
Di depan bandarapun, tidak ada sambutan seperti biasanya petinggi negara sampai, karena kondisi pemerintahan sedang kacau setelah tsunami.

Uni kembali bercerita, dalam kondisi panik tersebut, pak Jusuf kalla saat itu saja harus naik mobil kijang model jaman. mereka langsung saja pergi meninggalkan uni dengan dengan rombongan lain. Hingga dalam situasi tidak adanya kendaraan untuk menuju kota Banda Aceh, akhirnya mereka memberhetikan sebuah mobil truk gerobak kayu  untuk mengantarkan mereka.

"Mau tidak mau akhirnya saya, ibu menteri dan kawan lainnya naik ke mobil truk gerobak kayu menuju Banda Aceh."

Pada saat sampai ke kuburan massal Siron, Lambaro, Aceh Besar. "Saya melihat ribuan mayat dan saya menangis disana, sebelumnya saya tidak membayangkan segitu banyaknya mayat," kata uni sambil meletakkan kacamatanya di atas meja. Terlihat kesedihan yang berusaha ditahan di wajahnya. ruangan kelas memang sunyi. karena hanya kami berdua yang tinggal di dalam ruang duduk berbicang-bicang di jam istrirahat.

"Saya bersama pak Jusuf kalla  melihat ribuan mayat bergelimpangan di Lambaro. Luar biasa dasyatnya, saya mengambil gambar jasad seorang ibu yang tetap memeluk anaknya yang masih bayi, tapi badanya sudah berlumuran lumpur beku dan kaku, karena katanya lumpur tsunami itu panas ya." Kenang Uni 10 tahun lalu saat sedang meliput kejadian tsunami.

Sebelum memulai ceritanya lagi wanita yang pernah menjadi pemimpin Redaktur Media Islam milik Buya Hamka tersebut mulai mengengamkan kedua jarinya dan  meletakanya di dagu. Mata mengarah lurus ke sudut ruangan. lalu dia mengatakan, bahwa dirinya teringat pada 23 agustus 2003  pernah menyelengarakan konser di lapangan Blang Padang.

"Saat itu saya menjadi ketua panitia,  pada saat tsunami di Aceh, saya melihat ribuan mayat di Blang Padang itu kontras banget dengan kegembiraan dan duka cita yang saya liat pada saat saya mengadakan konser dangdut terbesar selama Aceh ada,"ujarnya 

Pada saat itu kata Uni masyarakat yang datang memenuhi lapangan Blang Padang untuk melihat penampilan 33 artis ibu kota yang di boyongbya, "Jalanan macet hingga berkilo-kilo meter, semua orang turun untuk melihat konser, dan begitulah kondisi yang saya lihat ribuan orang tidak bernyawa lagi di saat tsunami terjadi di Aceh," ujarnya.

Karena tidak memiliki waktu yang cukup,  kisah yang diceritakannya hanya bisa sampai disini saja. Namun dimata Uni sendiri, " pembangunan Aceh pada hari ini sudah cuku baik ya, sudah banyak rumah dan bagus," ujarnya yang juga mengaku mulai sering datang ke Aceh dan mengenal dekat Illiza, Wali kota Banda Aceh.

"Aceh menyimpan banyak kenangan bagi saya, dan hari kini saya melihat banyak teman yang saya kenal, mereka sangat sabar dan sudah bangun dari keterpurukan," ujar Uni menutup wawancaranya.

Bertepatan 10 tahun peringatan tsunami Wakil Persiden Jusuf kalla yang kini mendampingi presiden Jokowi tersebut kembali menginjakan kakinya di Aceh layaknya cerita yang di dengarkan Uni Z Lubis pada hari kedua tsunami dia bersama jusuf kalla mendarat di Aceh.

Mulai dari Perdamaian Konflik antara RI dan Gam, Yusuf kalla dan Aceh mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan. Bencana tsunami telah menanamkan kesabaran di hati masyarakat Aceh.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar