Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Oktober 2017

Menjadi Lilin

Dulu saat sedang membicarakan perihal menyelesaikan kuliah di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Unsyiah, dosen wali saya mengatakan, "kamu seperti lilin yang menerangi orang lain, tapi kamu habis." 

Saat itu saya tidak membalas kata itu karena saya tahu diri lalai kuliah karena sibuk belajar jadi wartawan, meski dalam hati sangat ingin sekali menjawab, "Bapak seperti senter cas, yang terang tergantung energi masuk". Niat itu saya urungkan untuk menghormatinya. 

Saya paham saya salah, tapi saya tidak paham sebagai guru dia sangat pandai menghina muridnya. 

Terakhir kali berjumpa dengannya di akhir masa studi, saya menangih janjinya untuk membuka satu mata kuliah di semester pendek (SP), tapi dia menyuruh saya menanyakan sendiri ke Pembantu Dekan II (PR II). Saya naik ke ruanganya dan menemui beliau menjelaskan skripsi saya sudah selesai, minggu depan saya naik seminar hasil, dan pembimbing saya menyatakan akan membantu saya untuk bisa langsung sidang tidak lama setelah itu. 

Namun, pengajaran mengatakan untuk menghubungi kepala jurusan yang dia juga menjadi dosen wali saya menelponnya untuk mengambil keputusan terkait permasalahan saya, karena menurut PD II tahun ini tidak boleh buka SP berdasarkan keputusan rektor. Keputusan itu saya rasa ganjil, karena biasanya SP selalu dibuka asal cukup kuota mahasiswanya. Saya bolak-balik keluar masuk gedung satu dan lainnya membawa berita dari satu mulut ke telinga lain. 

Saya hilang semangat, dan kemudian menelpon rektor yang kebetulan sering mewawancaranya beberapa waktu lalu untuk meminta konfirmasi terkait dana pengetesan urine mahasiswa oleh tim kesehatan kepolisian yang dipungut 100 ribu rupiah dari mahasiwa yang total mahasiwa baru mencampai sampai 3000 orang, sedangkan BNN tidak dilibatkan. Berita terkait ke mana dana itu dan proses di lapangan asal masukin data itu sempat saya kejar hingga pemred saya menyetopnya. Sebagai wartawan pemula saya hanya nurut saja tanpa menanyakan alasannya. 

Siang hari saya menelpon rektor mengadukan permasalahan saya. Rektor tidak masalah dan menyerahkan urusan itu ke fakultas, "Bagi saya tidak masalah, urusan kecil begitu kembali ke fakultas kamu saja." Saya senang bukan kepalang mendengarnya. 

Saya kembali ke pengajaran menyampaikan ke PD II tanggapan rektor tadi. PD II menyerahkan ke kepala jurusan. Nah, di situ saya mentok karena sepertinya kepala jurusan tidak mau membantu banyak urusan saya. Di meja panjang ruang tengah jurusan saya menemuinya, setelah menunggu berjam-jam mahasiswa lain konsultasi dengannya. Saya sudah merasa lelah. Saat menemuinya saya langsung membahas bagaimana keputusan untuk saya? Apakah saya bisa lulus di sini? 

Saya melihat raut wajah bosan. Dia tidak menjawab, hanya mencibirkan mulut sambil mengeleng kecil. Saya memohon untuk bisa melihat solusi lain dengan menghapus beberapa mata kuliah yang untuk anak baru yang kadung saya ambil agar IPK bisa terdongkrak, dan mungkin saya bisa minta tolong dosen mata kuliah bersangkutan untuk ikut ujian mengubah nilai saya setidaknya menjadi C. Saya tertunduk lesu di ruang itu mendengar dia menceramahi saya tentang filosofi lilin tanpa ada kata memberi solusi. Saya cemburu pada kawan saya di Jurusan Agronomi yang dosennya tahan badan habis-habisan untuk meluluskan dirinya yang ketinggalan 12 SKS. 

Sesudah dia terdiam, saya kembali bertanya, apa saya bisa lulus di sini? Dia kembali menjawabnya dengan gelengan kepala yang berat dan mengatakan kamu kok ruwet kali jadi orang, sembari menutupinya dengan menghina saya dengan kata, "mungkin kamu pekok nggak?" Di situ amarah saya memuncah. Dia memperlakukan saya seperti anak SMA. Rasanya ingin sekali saya hantam kepalanya yang tampak menjaga jarak hantam tangan saya yang tergengam kuat. Tapi niat itu lagi-lagi saya urungkan karena nasehat dosen pembimbing saya yang sempat mengatakan, "kamu harus mengontrol emosi, mereka (dosen-dosen itu) memang banyak menjadi pegawai yang patuh, tapi bukan pendidik yang baik". 

Kemudian saya mohon diri sambil mengatakan terima kasih. Saya turun dari ruangan itu dan meniatkan diri tidak akan pernah sekalipun mau masuk lagi. Terhitung ada 2 kawan lainnya yang se-dosen wali dengan saya harus merengggang semangat lulus di bawah panji fakultas itu. 

Harapan saya pupus saat menemui pembimbing skripsi saya dan menceritakan pertemuan itu. Saya selalu salut dan menghormati pembimbing satu ini, dia selalu mendengarkan saya sebagai teman dengan memanggil saya dengan sebutan "Gon" (kawan). 

Dia menyemangati saya dengan mengatakan, "kamu tidak boleh menyerah karena mereka. Masa depan kamu itu bukan di ijazah, tapi di otak kamu." Mata saya basah mendengarnya. 

"Kamu pindah ke Abulyatama, biar nanti saya yang telpon kawan saya di sana untuk membimbing kamu." Saya mengiayakan. Semua orang bisa menjadi guru, tapi tidak semua bisa jadi pendidik. Dan pembimbing saya adalah guru yang luar biasa baik hatinya. Terima kasih, pak Romano. 

Dan akhirnya, awal tahun lalu saya sudah menyelesaikan tanggung jawab kuliah saya sebagai anak pada mamak. Untuk menyelesaikan S1 saya sudah masuk tiga universitas, 2 jurusan, dan 10 tahun lamanya. Saya tidak pernah menyesal telah melewati semua itu. Saya tidak menyesal menjadi sebatang lilin menerangi orang lain sedangkan saya mati habis pelan-pelan. Semoga tetesan lilin itu berguna bagi orang lain. 

Setidaknya dengan menjadi lilin, banyak hal yang mengubah cara pandang saya pada banyak hal. Seperti pohon, hidup harus bermafaat bagi orang lain. Dan, jangan pernah menyerah, Kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai.

Senin, 12 Juni 2017

Ke Pasar Malam


"Mau ke mana, Acut," tanya Putroe berulang kali sejak keluar dari rumah. Tidak jenuh juga saya menjawab, "ke pasar malam..kita kan."

"Pasar mayam ya...ya? Beli pesawat ya..ya..?" Sahut keponakan saya mengemaskan bak lakon karton "Masha end the Bear", sedangkan saya hanya terus mengiyakan sambil berhati-hati mengendarai sepeda motor. 

Kali ini dia keliahatan senang sekali berpergian dengan saya, biasanya, belum beberapa puluh meter sudah ngeng-ngeng panggil mamanya. Mungkin karena sebelum pergi tadi saya sudah buat kesepakatan "janji jangan nangis ya". Ah, anak sekecil itu, mana mau tau. Atau dia memang sedang senang akhirnya akan memiliki balon pesawat terbang seperti punya saudara seumurannya terpenuhi? Anak kecil mana kita tau pikirannya. Paling kalau dia ketawa berakti dunia sedang senang, kalau dia nangis berakti masa depan bumi sedang dipertaruhkan. 

Contohnya seperti sepanjang jalan tadi dia bertanya-tanya "Tu apa, Cut..Tu apa?" Oh..Tuhan..dia sangat berbakat jadi Jurnalis. Dengan sabar saya harus menjawabnya selembut mungkin, agar masa depan bumi terselamatkan. 

"Itu, Ian." 
"Ian rambut kepang ya?" Dia menunjuk ke arah seorang pejalan kaki dengan pakaian lusuh dan rambut panjang kusut, gimbal. Ian pria paruh baya mengalami ganguan jiwa yang selalu lalu-lalang di sekitar kampung. 

"Takut, Acut?"
"Nggak..Putroe takut?" 
"Takut putroe.."
"Jangan takut, dia kan baik.." Saya menoleh ke wajahnya. Entah kenapa si Putroe diam saja. 

"Haa..kita sampai.." Kata saya mengejutkannya. 

"Bola-bola." 
"Kita parkir dulu ya."

Belum sepeda motor terparkir dengan baik, dia tidak sabaran mau turun saja. Sepertinya permainan pancing ikan di depan kiri kami menarik perhatiannya. Ia, kolam berisi air dengan ikan dan bola dari plastik.

Saya menggendongnya  sambil mencuci otak ala ospek mahasiswa, "Ngapain mancing ikan bohongan. Kita cari pesawat aja yoek?" Dia malah bengong mandang dua orang ibu megang kail, sedangkan anaknya menonton ibunya memancing ikan tanpa suara, tanpa ekspresi. Sungguh kebahagian yang dipaksakan.

Karena pengunjung tidak terlalu ramai, batita berjaket kelinci ini saya biarkan berjalan sendiri mencari kebahagiannya. Saya mengekornya dari belakang. Dia berlari menuju kereta listrik yang berputar-putar di rel yang berbentuk angka Nol sambil sekali-kali melihat ke arah saya. Dia tertawa melihat dua anak Laki-laki duduk di dua gerbong, tapi lagi-lagi anak Laki-laki itu tidak tertawa, bahkan ekspresi wajahnya tegang seperti sedang diculik. Gila, eh, orang tuanya malah menyorak memberi semangat sambil dada-dada kayak rombongan antar haji. Padahal kalau diperhatikan dari raut wajahnya si anak rasanya pingin lompat dari kereta api jungkir-balik kayak film anak
muda India, lalu dengan gagah menghampiri plosotan plastik raksasa berisi angin yang sejak tadi saya perhatikan arah matanya sangat ingin berloncat-loncat tinggi sampai ke angkasa sana. Lagi-lagi kebahagian ada harganya. 

Beda lagi sama si kecil saya yang ketawa-ketiwi kegelian sambil sekali-kali tepuk tangan melihat "kereta odong-odong" itu berputar-putar. Sekali kepala gerbong melewatinya berkali-kali dia ketawa geli. Kecuali itu, dia tidak mau naik walau saya maksa mengangkatnya. Tidak selamanya pemain lebih meyenangkan dari penonton. Bahagia itu sederhana ya, Nak. 

Pasar malam seberang istana wali nanggroe ini berada dalam seperempat lapangan bola. Jadi tidak banyak terdapat lapak-lapak yang menyajikan, maupun menjual pernak-pernik. Ada 3 lapak menjual baju murah, permainan lempar gelang dapat rumah sekalian istri (hehehe...nggak deng), ada juga lapak alat pecah belah yang dipenuhi ibu-ibu sedang pilah-milih sendok dan baskom, dan, itu dia lapak penjual balon pesawat yang kami cari. Saya menarik tangan Putroe menuju penjual balon. Sesudah beberapa langkah, dia kembali tertawa sambil berlari menunjuk balon yang terdorong-dorong tertiup angin. Malam ini angin memang sedikit kencang. 

"Acut..Acut..pesawat." Dia tertawa riang sekali. Lagi-lagi seperti habis digelitik badannya seraya menyentak-nyentak kaki ke tanah. Ketawa saya lihat tingkahnya. 

"Iya..iya..pesawat," sambil saya angkat dia untuk mengapai seikat balon itu. Ada love, kepala power ranger, ikan, dan tentunya bentuk pesawat berwarna pink yang dia coba tarik-tarik. 

"Tunggu ya..biar bapak ini ambil." Saya menyodorkan balon pesawat. Penjual itu mengikatnya dengan tali plus batu pemberat di bawahnya. Ini anak kecil riang bukan kepalang, ditarik-tariknya itu pesawat dan kemudian di lepas talinya. Tinggalah saya yang sibuk mengejar-ngejar itu pesawat yang ngak punya bandara. Eleh...ni bocah malah bengong lihat saya kejar itu balon nyangkut di atap lapak orang. 

"Ini pegang yang baik ya..kalau terbang lagi, Acut nggak mau kejat lagi." Mana mau tahu,  balonnya di tarik-tarik lalu dilepas lagi...heeehh..Di balik sebuah Kebahagian yang tahan lama, selalu ada orang yang bersusah payah menjaganya buat kita. 

Kini waktunya pulang, biarkan pasar ini menegakkan namanya. Sembari berjalan ke parkiran, ada satu lagi yang ingin saya berikan padanya, sepaket mainan masak-masak-an. Ya, walau dia sama sekali tidak berkata apa-apa saat saya memilih mainan untuknya, tapi setidaknya anak Fachrul Razi dan Wiwox Wiwik ini harus tahu cara memasak bermacam-macam perasaan menjadi kebahagian untuk sekelilingnya. 

Ayuk, Nak, kita pulang. La..lala..lala..lala😄👧

Rabu, 25 Maret 2015

Pada Sahabat Kecil




Apa kabarmu sobat?Lama tidak berjumpa.

Aku masih seperti sedia kala. apa yang perlu kamu tau? Kamu tau pasti tentangku.

Sejak terakhir berpesta kopi, Kita memang tidak biasa membahas pergiokan yang sekarang kian merajalela di atmosfir kutaraja (Banda Aceh). Tidak juga kita terlalu peduli pada lambang dan warna-warni politik kaum biokrat itu.

Jumat, 20 Maret 2015

Cerita : Nasehat "Jangan Mabuk" Dari Pemabuk.

NASEHAT. Malam kian larut, cahaya purnama mendesak masuk dari rimbun tajuk pohon yang lebat menutupi batang sungai di sebuah tempat yang tersembunyi. Kami menyebutnya tempat "rahasia". Jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk sombongnya kota.
Tempatnya memang agak terpencil, namun hanya 20 menit dari pusat kota Banda Aceh. Tidak ada Listrik disana, penerangan hanya mengandalkan rambatan cahaya jilatan api dari kaleng bersumbu yang diisi minyak bumi.

Kamis, 19 Maret 2015

Badai Februari

Badai Februari selalu Dasyat. saya selalu remuk di bantainya. Isi kepala berhamburan entah kemana? Tapi saya hidup, masih berjalan dalam daya yang semakin meredup.

Ini minggu ketiga dipersembunyian, Februari sudah reda, namun berganti nama Maret yang panas. Daun-daun luruh dari batang, kali ini tiada tempat lagi untuk berteduh sembuh.


Cerita : Mengenang Cinta Mahasiswi Kedokteran Berhati Gunung.

"Wajahnya sangat cantik, Kalau di pikir-pikir, ntah di mana ganteng saya sampai anak kedokteran itu suka sama saya," kata seorang kawan yang punya badan tegap, tampang garang, lengan berotot berkulit hitam pudar pada malam kamis,11 maret 2015 itu.


Kamar berkotak 4x4 ini memang sepi tidak seperti biasanya, hanya tinggal kami berdua berbaring malas dengan Handphone di tangan. Beberapa Lagu era reformasi dari Iwan Fals dan lagu cinta pilihan ikut duduk di telinga menemani suasana sunyi ruangan.
Biang keroknya memang dari Lagu cinta dan rapal mantra pengasih dari orang lemah psikologis yang saya dengarkan padanya untuk sekedar mengundang tawa, sehingga berhasil membuat kami tertawa bersama-sama. Begini bunyi mantra yang sempat saya rekam pada selembar malam yang membuat kami tertawa saat menolong dia yang bicara meracau sedang gesot di tengah pinggir kota Blang Pidie pada penghunjung 2014 silam.

"Hong, Segala Bak, ku sintak kenong peurede, keudeh ku hoi keuno kajak, menyoe ka galak kah bak qe, dengan kalimat lailahailallah."
Setelah merapal itu, kemudian orang yang kurang waras itu langsung minta di rekam lagu cintanya. Lagi-lagi saat mendengar dia melantunkan lagu dengan lirik, "Indah malam sayang, na bulen purnama, megeudam hai adoe, teingat ke gata." Serentak kami tertawa mendengar suaranya yang melengking seperti kenalpot tua.
Tentu kami bukan orang yang percaya akan mantra pengasih itu, kami hanya mengambil tawa, sambil kemudian saya ceritakan bagaimana dia menanyakan harga mobil kawan saya yang enak sekali duduknya, lagi-lagi itu membuat kami tertawa hingga akhirnya dia bercerita tentang kisah cinta yang membelit beberapa kawan seangkatan dan seniornya di sebuah organisasi pecinta alam (Mapala) di fakultas berlambang timbangan, di Universitas ternama di Aceh oleh seorang anak Fakultas Kedokteran berparas bidadari, katanya.
Kisah itu lagi-lagi membuat saya tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar dia berkata tidak menyangka bisa di sukai oleh wanita secantik anak kedokteran itu. Padahal di antara hampir puluhan lelaki yang masuk dalam persaingan "Bursa saham cinta" itu , hanya dia dan seorang seniornya yang berwajah boros dan kelam.
"Entah kenapa dia suka saya? Tapi hidup saya, baru itu sekali merasa ada wanita yang suka sama saya," katanya sambil sangat serius menyambung cerita. Sedangkan saya terus tertawa mendengar dia menyebut satu persatu para pengejar cinta wanita berparas cantik mahasiwa jurusan pilihan sejuta umat itu.
Semua persaingnya saya kenal, tapi dia melarang saya menyebutkannya agar tidak mengundang tawa ataupun murka mereka akan cerita lucu yang mereka sendiri pura-pura tidak saling bicara kenangan itu.
Saya mengenal kawan saya ini sebagai orang yang garangnya minta ampun. selain seorang yang selalu berdiri lantang saat mengelar "Demo" pada saat masih menjadi mahasiswa, juga pernah menghantam seorang anggota polisi yang "sok jagoan" di kampus untuk membela adiknya yang terbelit urusan mahasiswa, dan mungkin karena tempat tinggalnya juga di wilayah basis pemberontakan GAM masa dulu, hingga membuat gayanya tersirat sangat bugam (Macoe..)" tertempa kerasnya konflik senjata yang kepanjangan.
Tapi malam ini, mata saya terkencing-kencing mendengar cerita cintanya.
Di antara semua lelaki yang mendekati wanita itu, hanya dia yang disukai, kata kawan si wanita yang juga dekat dengannya saat itu. Tentu serta-merta hal itu membuatnya sangat senang, tapi hanya dinikmatinya dalam hati ketika mendengar berita gembira yang setara dengan mendengar berhak menerima "harta karun" berupa berlian sebanyak segudang padi. 

"Tapi saya harus mundur meski lampu hijau tanda cinta menyala, karena melihat tingkah salah satu senior saya sedang cinta mati padanya," Katanya.
Walaupun di balik itu semua, senior itu tidak tau bahwa jelita itu sama sekali tidak cinta, karena sayang melihat seniornya yang pantang menyerah mengejar wanita sekelas wajah Raisa itu. Akhirnya dia memasang wajah hambar tanpa dosa di suatu senja dan mengatakan pada si wanita: Bahwa kamu bukan pakaian bagi saya.
Wanita yang hobi mendaki gunung itu menangis, katanya. Saya tertawa. Dia menangis untuk orang yang kalah telak bila ikut seleksi wajah dia antara pemburu cinta wanita itu lainnya.

 "Saya tidak tau pasti kenapa dia suka saya, mungkin karena saya pernah menyodorkan kaki saya saat dia ingin menaiki diding bak truk yang tinggi saat kami akan berangkat camping ke puncak Kuta Malaka," ujarnya.

Kali ini, Laki-laki berwajah preman itu nampak serius, lalu tiba-tiba tersenyum dan lanjut berkata, "Atau mungkin karena saya pernah memberikan jaket saya saat dia kehujanan di sebuah pendakian." Hahaha..saya kembali tertawa karena tidak menyangka dia seromantis itu. Dia juga ikut tertawa sambil membenarkan kejadian itu dengan anggukan kepala dan wajah tulus itu ke arah saya.
Setelah lama tertawa plontang-planting mendengar ceritanya sambil saya berkata tidak menyangka dia begitu lembut orangnya, kemudian dia lanjut bercerita. "Setelah saya menolaknya, dia mengatakan kata yang sampai saat ini masih saya ingat: saya tidak akan menikah dengan orang Aceh. Dan hari ini saya melihat itu, dia menikah dengan orang Bandung pada 2011 silam."
Kini suasana menjadi sedikit rapat setelah dia menceritakan itu, padahal sebelumnya dia sempat pernah menceritakan bagaimana dia merasa terharu dan geli sendiri saat meniup lilin kue ulang tahun yang di bawa wanita itu saat ulang tahunnya. Padahalnya lagi katanya, seumur hidup dia tidak pernah merayakan ulang tahun.
 "Baru kali itu saya meniup lilin, Hai dari nek kon hantom ta kaleun peukaten lage nyan (dari masa nenek saya, memang tidak pernah melakukan hal demikian), "cetusnya hingga membuat saya kembali tertawa terpingkal-pingkal. Yang sebenarnya memang begitu adanya tradisi Aceh yang masih dianut kuat dalam keluarga.
Sebenarnya yang membuat saya terus tertawa bukan karena sekedar kisah cinta yang kini sedikit dia sesali. Karena menurut saya, gagal cinta biasa bagi anak muda. Tapi apa jadinya jika sebuah kisah melankolis terjadi pada lelaki dengan Gaya "Rambo" dan sikapnya yang serba jantan itu, namun rela bergadang demi membuat kado ulang tahun sampai jam 4 pagi.
Saat semua para pesaing di bursa cinta calon ibu dokter mengeluarkan senjata mematikan dengan memberi kado berharga, dia hanya berfikir sederhana dan se-desa-desanya, hanya seongok potongan bunga Karang yang dirakitnya dengan lem menjadi sebuah bunga karang besar yang kemudian dia balut dengan selembar koran tanpa hiasan apa-apa. Tanpa perekat lem, hanya ujungnya dia pelintir.  Diremas begitu saja agar melekat. Sungguh lelaki yang seenaknya saja.
Tapi siapa tau, hanya kado miliknya yang dibawa pulang wanita itu setelah perayaan di tonggrongan burger trotoar depan Bank Mandiri Banda Aceh malam itu.
Dalam hal wanita dan cinta dia memang bersikap acuh, namun di bakik sikap itu rupanya, sikap sok coolnya lah yang membuat dokter berhati gunung itu menyimpan obat penawar gelisah hati.
Calon istri dari Wanita Aceh memang terkenal dengan "mahar selangit" tapi, kepadanya wanita itu sempat berkata, "Kalau kamu yang lamar, aku hanya minta dua mayam emas, tapi kalau yang lain dia minta 50 mayam emas." Tentu dimana-mana yang saling mencintai akan banting harga dari pada untuk orang yang maksa cinta. Di situ kadang dia merasa bangga.
Namun, itu masa lalu katanya, "Tapi saya masih belum habis fikir dan sering lucu sendiri kalau lihat diri saya, lelaki ini pernah disukai wanita secantik dia," katanya sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian membuat saya ikut mencampur suara dengannya dengan tawa tidak kalah besar dengan meriam bambu.
Semua itu kini hanya tinggal masa lalu yang lucu menurutnya, setidaknya dia masih merasa menang meski mundur demi teman, dan selebihnya karena merasa diri tidak mampu membuatnya bahagia.
"Tapi saya menang, kata kawan saya, saat dia mengingat saya saat berjalan dengan orang lain, di situ saya menang," katanya setelah menceritakan kabar ingatan itu dikatakan sahabat wanita sekamar wanita itu padanya, setelah wanita itu terpaksa pergi menerima ajakan seorang pesaing yang suka maksa. Dan dia hanya tertawa mendengarnya.
Mengingat kenangan di usia se-begini, dia hanya bisa mengirim doa agar wanita laksana salju yang pernah cinta kayu arang itu, bahagia dengan suaminya dan semoga secepatnya punya momongan.
Dan di balik tawa saya yang seenak mulut sampai sakit perut, sungguh, cinta itu tumbuh dengan cara sangat misterius, pada sikap yang tidak disangka-sangka atau kemustahilan rupa yang tidak seberapa. Semua mungkin sepadan menuju sempurna. Namun, lagi-lagi tergantung kita siap atau tidak menerima hal yang dapat mengejutkan dunia yang mungkin juga membuat kita langsung mati berdiri kena serangan jatung.
Bagi semua jomblo senasip, saya hanya ingin mengatakan, "Saat kesempatan ada, ambil saja
hingga kamu dihadapkan pada pilihan selanjutnya."

Senin, 02 Februari 2015

Sepotong Kisah perjalanan Perang Aceh dari Abu Chek (2)

Yahya(Abu chek)
Usai  lah cerita Abu Chek Perang Aceh dengan gelar modalnya, kekecawaan yang kian menjadi menurut Abu Chek atas pemerintah pusat dari tahun 1945 terus menjadi dilema bagi Rakyat Aceh  akan jasa yang tak terhargai. 



Hingga akhirnya kekecewaan yang sekian lama mendekam dalam hati rakyat Aceh pun menyeruak menjadi pergerakan DII/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) pada tahun 1953 yang di prakasai oleh Tengku Daud Beureueh di Aceh, dengan tujuan untuk memisahkan diri dari negara Republik Indonesia dan mendirikan negara dengan sistem pemerintahan syariat islam.

Sabtu, 31 Januari 2015

Kenangan Cinta di Selembar Desa

Bidadari Kecil di jembatan gantung.

Akhirnya berjumpa kembali.. setelah lama tegur rindu pada hati yang memaksa mata untuk segera dan segera ingin menatap kamu, yang ku panggil dengan sebutan " Bidadari Kecilku".

Empat bulan lamanya, rindu terpenjara jarak dan waktu, ini pertemuan ke Dua setelah berkenalan pertama sekali di udangan pesta Bang basri, ab sepupumu itu..semua seakan berlangsung cepat kala itu. paras cantikmu dengan sekejap memikat segala aura hati yang ku tak tau harus ungkapkan bagaimana di depanmu.


''Aku pulang ke kampung ikut orang tua ku, bagaimana cara kita bertemu,'' tanyamu sambil kau sodorkan aku setumpuk rindu yang tak muat lagi harus tertuang.
''Ia, aku akan datang kemana pun kamu pergi'' janji ku padamu setelah luruh rintih rindumu kalahkan hujan pada hari itu.

kita memang jarang, dan hampir tidak bisa segampang kekasih lainnya untuk berjumpa, walau sekedar tegur sapa. Negeri petro Dolar (Lhokseumawe) adalah kota mu dan aku di kutaraja (Banda Aceh). terlalu jauh rasanya jarak kota saat itu, bagi kita yang di kurung usia.

''Baiklah, kita akan bertemu saja di kampung ibumu di gempang,'' kemudian kita akhiri telponan malam itu, setelah lama merajut rencana dalam hayalan yang amat tinggi hanya untuk dapat bergengaman tangan.

Sore itu di Geumpang, aku telah lebih dulu sampai, setelah lelah ku kebut motor mengikuti pacuan rinduku padamu. Dan seperti biasa hujan selalu turun di bulan September di Desa Geumpang ini, sesuai namanya kan Rika, Geumpang (Gerimis Panjang).

Kabut-kabut mulai sembunyikan pandanganku ke arah Jembatan Gantung, dari seberang desa ibumu, disana ku menunggumu di rumah pemiliknya yang ku pangil Abua.

Resah, sangat resah sedangkan pikiran terus membayangkan, bagaimana  kamu keluar dari kabut itu, dengan hayalan gaun putih yang kamu kenakan,mungkin sedikit berlari-lari kecil, kemudian memelukku, ahh, begitu indahnya... Agak nakal memang hayalanku (seperti di film "Snow White" itu kan rika).

''Duk, duk,duk,'' nah..suara geruduk papan Jembatan Gantung berbunyi, tanda ada yang menyeberang, ku harap itu kamu.

Kabut masih tebal menghalangi padanganku, sedikit ku hela dengan tangan sambil ku sodor sedikit ke depan leherku mencari jarak pandang yang jelas.

''Hahaha," ku dengar tawa dari 2 wanita yang tak mungkin bukan kamu, mendekat dan terus mendekat.

Wahh..mendecapku dalam hati, ini saat yang paling ku tunggu, sambil sedikit ku bayangkan adengan fFlm "Kuchi-Kuchi Huta Hai" saat Syahrul khan dan Angeli berlari diatas sebuah jembatan kayu panjang film itu, setelah lama memendam rindu,dan cinta yang tidak terungkap. hahaha.. Lebay memang, tapi begitulah Rika hayalku.

''Hai, apa kabar, kapan nyampeknya?'' basa-basimu dengan serius telah merusak adegan film india  yang sedang ku sutradarai sendiri di pikiranku, yang pemerannya adalah kita

''Ah, gak ada romantis-romantisnya,'' sahutku sedikit dengan nada merajuk. hingga kemudian jawaban genitmu mampu terbangkan lagi mataku pada wajah putih jernih tanpa noda.

''Yang penting kan, aku selalu sayang kamu,'' haufff... hela nafasku menangapi rayumu.
Berada didepanmu saat kau ucapkan itu, seakan-akan aku berada di taman penuh bunga dengan cuaca sedikit sejuk, sambil duduk mandang senja yang agak kebiruan..indahhhhnyaaaa..hehehe.

''Akhirnya jumpa juga ya bang.''
''Ia, udah lama ya kaq.''

Hari tidak nampak berjalan, sebab mendung kuasai langit, hingga kemudian, hujan  turun terus-menerus seakan memainkan nada yang jelaskan dia ahlinya.

Kita duduk di teras, bercengkrama sewajarnya dan berusaha tidak melepaskan gengaman yang kita janjikan.

''Disini asik ya kaq, sejuk kali.''
''Ia, kk pingin tinggal disini nanti waktu tua, ya bang,'' mataku terus memandang wajahmu yang lurus memandang rintikan hujan dengan penuh pesona.

''ia, itu juga impian ab kaq,'' kataku, sambil ku arahkan tangan pada rintikan-rintikan yang hanyutkan suasana dan kitapun berjanji akan selalu menyayangi hingga kita menikah dan tua nanti.

kemudian kembali ku sodorkan kata ke daun telingamu,''aku mencintaimu rika,'' dan tidak henti-hentinya ku bisikan itu, mengungah perasaan, agar tersimpan dalam jiwamu.

"tiiittt..tiiit."

Suara motor di iringi pangilan namamu, buyarkan lamunan kita,'' itu kaq prina,'' jawabmu dengan spontan, di ikuti raut wajah tak ingin secepat itu dia datang.

''mau pulang ya kaq?.''
''Ia, kk harus pulang bang, gk enak nanti di tanya mama kemana pergi lama kali.''
''Ia,,hati-hati ya kaq,'' meski tak ingin rasanya kamu pergi.

''Aaabang.. kakak rindu kali sama ab, kapan bisa ketemu lagi..?.''
''besok ya kaq, secepatnya.'' ucapku menenangkan tanya rindu yang padahal kita tak miliki lagi kesempatan itu, sambil ku seka sedikit air mata yang jatuh di wajahmu.

''Jangan nangis beh kakak, kita pasti jumpa lagi,'' kata-kataku tenangkan gelora cinta yang belum habis terbagi.

Meski tak sangup, ini saat nya kamu pergi, kabut masih sama seperti kamu datang, setiap gerak dan langkah kakimu, tidak henti ku simpan sebagai kenangan. Sedikit-demi sedikit  kabut terus menelan pandanganku hingga ke jembatan gantung kembali berbunyi, menandakan kamu telah pergi.

heaahh.., raut wajahku kembali meredup sambil ku simpan setitik air di sudut mata.

''Akhirnya kamu pergi lagi bidadari kecilku'' di jembatan gantung itu kuharap kita akan kembali suatu hari nanti. 



















Jumat, 30 Januari 2015

Bunga Rengali

RENGALI namanya, sebuah bunga dari hutan daratan tinggi gayo yang membuatku jatuh cinta. Sebuah bunga yang hanya ku kenal nama dengan seketika buatku terlena dalam ketenangan mendengarnya dari petikan gitar dan alunan khas suara khas pemuda gayo.